Skip to main content

Keluarga dan Lingkungan Sebagai Penolong Terdekat

 


”Keluarga Sehat, Mental Sehat”

Seperti yang sudah diketahui bahwa keluarga adalah lembaga pertama dalam kehidupan seorang manusia. Tempat belajar dan bertumbuh kembang yang paling utama dan berpengaruh terhadap perjalanan seorang insan. Dimana, baik dan buruknya seseorang bisa dilihat dari asal keluarganya. Selain keluarga, maka lingkungan sekitar juga tak kalah berpengaruh terhadap perjalanan hidup seseorang. Pun lingkungan yang baik maka akan menjadikan seseorang menjadi baik dan sebaliknya.

Dewasa kini, sedang hangat-hangatnya membahas mengenai kesehatan mental. Terlebih di zaman seperti sekarang ini, pesatnya kemajuan teknologi dan informasi membawa masyarakatnya “terbang tinggi”, semua hal sudah sangat mudah dan cepat untuk didapatkan. Namun, sebab dari kemajuan dan kecanggihan tersebut pasti mempunyai dampak negatif salah satunya mengancam kesehatan mental. Khususnya para remaja pengguna internet dan media sosial.

Pengguna media sosial pasti banyak menemukan konten yang membuatnya merasa tidak aman atau terancam, mengakibatkan rasa iri dan ingin menyerupai. Tak jarang mereka bahkan jadi tidak percaya diri dan stress karena tidak bisa mencapai apa yang mereka ingin sebab terobsesi dengan konten di media sosial yang dilihat. Parahnya, bisa menyebabkan mental jadi tak sehat. Banyak stressor dan pikiran negarif, akhirnya perasaan jadi tak karuan. Tidak percaya diri, mudah marah, stress, cemas, ketakutan dan bahkan depresi. Tidak dapat dipungkiri, media sosial pun bisa jadi “racun” untuk mental seseorang.

Dengan begitu, keluarga dan masyarakat punya andil besar dalam hal ini. Keluarga harus bisa jadi pendukung yang baik dan juga penolong yang tanggap terhadap pengidap mental yang sakit, banyak hal yang bisa mengakibatkan gangguan mental salah satunya seperti yang disebutkan diatas, penggunaan media sosial tanpa disiplin dan penyaringan. Maka sebagai lembaga yang amat berpengaruh terhadap korban, keluarga harus bisa membantu korban untuk menyaring informasi yang diperoleh dari media sosial. Contohnya, keluarga bisa mengingatkan untuk tetap memilah konten atau isi informasi yang positif untuk dibaca, kemudian keluarga bisa memantau akun apa saja yang diikuti oleh korban. Juga keluarga bisa memantau seberapa lama penggunaan gadget pada korban agar tidak terlalu lama dan tidak terlalu banyak berselancar di media sosial.

Jika anak atau anggota keluarga sudah memperlihatkan gejala seperti sering berucap ingin menyamai, membandingkan, mengeluh bahkan membandingkan dirinya dengan konten yang lihat, maka sebaiknya keluarga mendukungnya dengan cara memberikan kata-kata yang supportif dan positif agar korban tidak terlalu fokus dengan rasa khawatir atau cemasnya. Sebisa mungkin hindari komentar yang buruk atau negatif saat dalam keadaan tersebut akan memperkeruh perasaannya dan bisa jadi sebab komentar buruk tersebut akan semakin mematahkan kepercayaan dirinya, semakin mengundang perasaan-perasaan negatif lainnya. Akhirnya, semakin cemas dan bisa merusak mental.

Selanjutnya, keluarga sebagai penolong yang paling dekat karena paling sering berinteraksi dan dipercayai oleh si korban. Maka sebisa mungkin keluarga harus terus memberikan asupan yang sehat tidak hanya berupa makanan atau minuman tetapi juga semangat dan dukungan yang positif untuk dapat menjadikan korban bahkan seluruh anggota keluarga tidak hanya sehat raga tapi juga jiwa atau mentalnya. Ketika korban menunjukkan gejala yang semakin serius, maka langkah selanjutnya adalah dirujuk kepada ahli untuk mendapatkan penanganan yang sesuai. Tetapi sekali lagi, keluarga adalah kunci dari keberhasilan penangannya, jika dalam keluarga tidak supportif maka semahal dan sehebat apapun penangannya maka akan sia-sia. Percuma saja sehat dirumah sakit tapi saat dirumah sendiri mendapatkan racun, khasiat obatnya pun akan terbuang begitu saja. Demikian, ahli hanya sebagai perujuk penanganan tetapi keluarga adalah pendukung utama dalam penyembuhannya dan keduanya harus bekerja sama dalam menyembuhkan. Keluarga yang sehat, maka akan membawa mental yang sehat.

Comments

  1. Keluarga memang oendukung paling utama ✔️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maka mari belajar jadi yg baik untuk bisa bangun keluarga yang baik, ehehe... terima kasih sudah mampir :)

      Delete
  2. Replies
    1. Love you too akakkuu cantiikk bumil sehat2 ya, BaarakAllah akak sayang <3

      Delete
  3. Replies
    1. Masih belajar kakak... doakan biar makin paten wkwk... terima kasih sudah mampir, semoga bermanfaat :)

      Delete
  4. Replies
    1. Maa syaa Allah, alhmadulillah... terima kasih sudah mampir ya put :)

      Delete
  5. Semangat ya..๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin aamiin aamiin, insyaAllah... terima kasih kak :)

      Delete
  6. Wah, terima kasih atas pengetahuannya kak. Sangat bermanfaat ๐Ÿ˜€๐Ÿ‘

    ReplyDelete
  7. Semangat terus isni ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih banyak fahmiii kawan smp plus tetangga kampung sebelah wkwkw๐Ÿ˜‚

      Delete
  8. Semangat terus ya ๐Ÿ‘ ๐Ÿ‘

    ReplyDelete

Post a Comment